Dr Achmad Subagio MAgr, Penemu Modifikasi Tepung Gaplek
31 Januari 2009

Kembalikan Kejayaan Singkong
Di tangan Achmad Subagio, tepung gaplek (tepung dari ubi kayu) yang minim manfaat, berhasil dimodifikasi menjadi kaya manfaat. Doktor ahli kimia pangan itu pun telah mempresentasikan temuannya tersebut di dunia internasional dan telah diakui.
————-
Jika menghubungi nomor telepon rumahnya di Jl Tawang Mangu, Jember, akan terdengar mesin penjawab berbahasa Jepang. Subagio memang lulusan Jepang. Dia menyelesaikan S-2 dan S-3-nya di Osaka Perfecture University di Negeri Sakura tersebut.
Mengapa tertarik meneliti tepung gaplek? Menurut dosen di Fakultas Teknologi Hasil Pertanian di Universitas Jember itu, tepung gaplek atau tepung singkong selama ini dikesankan inferior. “Kesannya selama ini, kalau orang sampai makan gaplek itu kok miskin banget,” kata pria 39 tahun itu.
Padahal, lanjut Subagio, singkong adalah tanaman yang sangat banyak di Indonesia. “Bahkan, menurut data FAO (lembaga PBB yang membidangi masalah pangan) 2004, Indonesia merupakan produsen ubi kayu terbesar di dunia setelah lima negara lain,” katanya.
Karena itu, singkong sebenarnya bisa menjadi alternatif bahan pangan ketika terjadi krisis pangan. “Tapi, orang telanjur lekat dengan kesan bahwa kalau makan tepung gaplek itu ndeso banget,” tandasnya.
Dari sinilah lantas muncul tekad Subagio untuk mengembalikan kejayaan singkong sebagai bahan makanan asli Indonesia.
Sejak itulah Subagio mulai meneliti tepung gaplek pada 2004. “Saya mulai meneliti ketika berada di Belanda, mengikuti training tentang food safety tiga bulan,” ceritanya. Dari Belanda, Subagio melanjutkan training ke Inggris, tepatnya di sebuah kota dekat Liverpool. “Di Inggris, saya mempelajari bagaimana mengemas sebuah produk baru yang selanjutnya saya terapkan untuk produk baru modifikasi dari tepung gaplek,” katanya.
Setelah setahun meneliti, akhirnya Subagio berhasil memodifikasi tepung gaplek menjadi bahan yang kaya manfaat. Temuannya diberi nama Modified Cassava Flour (Mocal), yakni tepung ubi kayu termodifikasi.
Apa bedanya dengan tepung gaplek? Subagio menerangkan, tepung gaplek, pembuatannya lebih sederhana. Yakni, ubi kayu dikeringkan, lalu digiling menjadi tepung. “Kalau Mocal, melalui beberapa proses kimia,” katanya. Di antaranya, ubi kayu difermentasikan dulu. “Difermentasikan di sini bukan berarti dibuat tape lho,” katanya. Setelah itu, dikeringkan. Mengeringkannya, 3/4 menggunakan matahari. “Kita juga menggunakan alat pengering hibrida agar terjamin hieginitasnya,” katanya.
Setelah dikeringkan, ubi ketela itu akan berbentuk chips (seperti keripik). Selanjutnya, baru digiling, diayak (disaring), dikemas menjadi produk tepung serbaguna.
“Bedanya dengan tepung gaplek, kalau tepung gaplek bau ketelanya masih dominan sehingga kadang baunya apek,” katanya. “Tapi, tepung Mocal kami cita rasa ketelanya hampir nggak ada. Sekitar 70 persen rasa singkongnya hilang,” jelas pria yang juga berhasil meneliti koro sebagai pengganti kedelai dan telah diterapkan di Afrika Selatan itu.
Berkat proses kimia yang diterapkan pada Mocal, Subagio berhasil menjadikan tepung gaplek memiliki tingkat viskositas (kekentalan) dan tingkat elastisitas adonan yang tinggi. “Kalau tepung gaplek itu tidak bisa dijadikan bahan pembuatan kue, tepung Mocal buatan kami bisa,” kata bapak satu anak itu.
Kini Subagio mengaku mulai kewalahan menerima pesanan dari sejumlah industri pembuat kue. “Menggunakan tepung Mocal memang lebih rendah biayanya ketimbang tepung terigu,” katanya. Sebagai perbandingan, harga tepung terigu sekitar Rp 4.600 per kilogram. Tepung Mocal sekitar Rp 3.200 per kilogram. “Kandungan karbohidrat tepung Mocal juga lebih tinggi dari tepung terigu,” lanjutnya. (wisnu priyono/jpnn/kum). (batampos.co.id)

konkret nya ajja deh pak,, jangan menawarkan angin surga mulu..!!
pak achmad yth
saya punya tanah di sumatera , jika saya tanamin singkong , dan bisa dibuat tepung gimana ya step step nya dan perkiraan biaya per hektarnya
terimakasih
kpd bpk subagyo ;jangan banyak cing cong,tulis aja cara buatnya,biar masyarakat mencoba,ntar kayk bulee energinya marjoko,tuk browser hati2 penipu berkedok ilmuwan!
Salut utk pak Subagyo. Untuk keperluan penelitian, kadang kita butuh spesifikasi dari produk tersebut, mulai dari mikroba yg berperanan penting. Gimana nih pak Bagyo, mau di bagi tidak?
Bagi saya sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dengan temuan Dr Achmad Subagyo, fermentasi yang dimaksudkan itu sudah ada sejak dulu di Colombia, bakteri fermentasinya diisolasi orang Prancis. Kita gak perlu repok-repot sampai Colombia, bakterinya bisa dibeli lewat internet. Kita tertipu kalo itu dikatakan suatu temuan baru. Di sekitar kita juga banyak bakteri yang telah diisolasi dan bisa dipakai langsung (tidak perlu pake enzim). Tk
saya sangat tertarik pada proses pembuatan tepung Mocal, Tetapi saya ingin lebih tahu banyak tentang macamnya mesin-mesin yang digunakan pada proses pembuatan tepung mocal. Dan berapa harganya?
setuju dengan pemanfaatanya..bagus juga penemuannya…cuma kalo sekolahnya dibayari negara..hasilnya juga harus dikasih ke rakyat cuma2 dong…sekedar mengingatkan saja..karena kita kalau mau belajar tentang ini…terkesan ditutup-tutupi dan (maaf) sangat dikomersilkan.
assalamu’alaikum bapak ahmad subagio, saya tertarik sekali dengan hasil pengelolaan usaha dari ketelan tersebut. kami punya jaringan kelompok tani yang ada didaerah yang kering sehingga lahannya menjadi nganggur.bisakah saya diberi kontak telp bapak ahmad subagio agar kami bisa berkomunikasi dengan jelas.
wassalamu’alaikum.Wr.Wb.
saya seorang mahasiswa teknologi pangan Universitas Padjadjaran. sy tertarik untuk melakukan penelitian tentang tepung mocal. akan tetapi literatur yang saya miliki terbatas,, sy membutuhkan literatur ttg tepung mocal tersebut,,setahu saya Bpk. Ahmad Subagio menerbitkan buku ttg tepung mocal, akan tetapi tidak diterbitkan. sy ingin sekali membeli buku tersebut.
bagaimanakah sy dapat memperoleh buku tersebut..?
sekian dan terima kasih
salut atas penelitian mas ahmad subagyo. hasilnya sangat bermanfaat bagi
Assalaamualaikum,
rakyat. tidak hanya dari sisi ekonomis, namun mutu produk tidak kalah dengan bahan baku yang disubstitusikan (tepung terigu).
semoga ke depan masih banyak lagi rekayasa dalam bidang pangan yang akan sangat berguna bagi masyarakat. Tiada kata yang layak kami ucapkan kepada mas ahmad subagyo kecuali ucapan terima kasih sebesar-besarnya atas kepeduliannya terhadap masyarakat. kami tertarik untuk membukukan hasil-hasil penemuan mas ahmad subagyo jika diperbolehkan untuk disebarkan menjadi ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi sesama.
Wassalaamualaikum.
syarif HP. 085229558343