Kebermaknaan Hidup, Jalan hidup para pejuang

8 June 2011

Seorang bisa merasakan singkatnya hidup meski ia telah menjalani hidup seratus tahun lamanya, sebaliknya telah ada mereka yang kehidupannya terasa panjang dan membentang ke beberapa generasi setelahnya meski kematian telah menjemputnya di usia yang sangat muda.

Umur hidup manusia akhir zaman ini pendek-pendek. Jika dibandingkan dengan zaman Nabi Nuh yang umurnya ratusan tahun. Umur umat Nabi Muhammad tidak lebih dari 80an tahun, rata-rata 63 tahun, sesuai umur Nabi Muhammad saw. Jadi kalau Anda saat ini telah berumur diatas 63 tahun bersyukurlah, karena saat ini Anda telah diberikan bonus waktu untuk terus hidup oleh Allah swt. Manfaatkanlah waktu bonus hidup itu dengan sebaik-baiknya.

Ukuran Hidup bukan kuantitas tapi kualitas

Allah swt menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kita. Ada yang dijemput saat masih belia, ada juga yang hingga jompo, tua renta dan sakit-sakitan pun belum juga malaikat maut datang menjemputnya. Allah swt berfirman dalam surat Al Mulk ayat 2 “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya..”. Jadi apakah kita akan berumur panjang atau mati muda sebenarnya tidaklah terlalu penting bagi kita, karena ukuran hidup sebenarnya bukanlah kuantitas (lamanya hidup) tetapi kualitas, yaitu ‘amal’ atau karya. Maka pertanyaan yang tepat bagi kita adalah adakah persembahan karya besar kita bagi umat dan kehidupan manusia?.

Betapa sering kita jumpai orang yang diberi umur lebih dari 60 tahun namun tidak banyak karya yang ia hasilkan. Keberadaannya tidak dikenal dan tidak dirasakan oleh orang lain. Kepada mereka ini dikatakan adanya sama dengan tiadanya. Tidak ada kontribusi yang signifikan bagi umat dan bangsanya. Maka orang seperti ini akan segera dilupakan oleh manusia. Golongan yang kedua adalah orang-orang yang  kehadirannya sangat dirasakan tetapi senantiasa membuat resah, dan merugikan. Banyak orang yang bersyukur jika orang seperti ini tiada. Nauzubillah. Dan golongan yang ketiga adalah orang-orang yang memilih jalan hidup para pejuang. Mereka yang hidupnya dipenuhi dengan karya dan amal. Tidak ada hidup santai bagi dirinya. Semboyan hidupnya adalah perjuangan dan amal  “Nahnu qaumun amaliyun”. Semoga kita termasuk golongan ini nantinya. Amiin

Saudaraku seiman, salah satu ukuran kebarokahan umur seseorang adalah ketika hidupnya terasa lebih panjang dari total umurnya. Jasa baiknya senantiasa dikenang oleh manusia. Ia seakan tetap hidup dan hadir dalam ruang-ruang kehidupan manusia meskipun malaikat maut telah lama menjemputnya. Kisah-kisah hidup orang-orang seperti ini senantiasa menginspirasi dan membangkitkan semangat. Kita mengenal Nabi Muhammad saw yang telah wafat 1400 tahun yang lalu, namun ajarannya, kisah dan jalan hidupnya senantiasa menyusup kuat dalam jiwa dan menginspirasi hampir semua kaum muslimin. Imam Bukhari yang hidup pada tahun 800an masehi, karya besarnya Kitab riyadhus shalihin senantiasa menjadi rujukan kaum muslimin. Hasan Al Banna seorang tokoh pendiri Ikhwanul Muslimin Mesir meski terbunuh pada usia 43 tahun namun gerakan dakwahnya tidak mati, malah menyebar ke seantero dunia dan menginspirasi berbagai pergerakan-pergerakan dakwah di berbagai negara di dunia. Sayyid Qutb yang dihukum gantung pada tahun 1966 meninggalkan karya besar Ma’alim fii thariq dan kitab tafsir fii dzilalil Qur’an yang sangat fenomenal dan menjadi referensi.

Penanda penting dari perjalanan hidup orang-orang besar ini adalah jalan hidupnya yang unik. Hidupnya tidak pernah untuk dirinya sendiri. ia selalu peduli dengan orang lain, nasib umat dan permasalahan hajat hidup orang banyak. Karyanya adalah karya besar yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup orang banyak. Semakin besar dan luas pengaruh tokoh-tokoh ini maka ia senantiasa seperti tetap hidup sepanjang masa hingga manusia telah benar-benar melupakannya. Mereka seperti menitis dalam jiwa orang-orang yang telah tinggalkan. Impiannya, obsesinya dan tujuan hidupnya tertanam pada jiwa para pengikutnya. Demikian lah gambaran dari mereka yang hidupnya lebih panjang dari umurnya.

Ustad Sayyid Qutb berkata: “Ketika kita hidup untuk kepentingan pribadi, hidup ini tampak sangat pendek dan kerdil. Ia bermula saat kita mengerti dan berakhir bersama berakhirnya usia kita yang terbatas. Tapi, apabila kita hidup untuk orang lain, yakni hidup untuk (memperjuangkan) sebuah fikrah, maka kehidupan ini terasa panjang dan memiliki makna yang dalam. Ia bermula bersama mulanya kehidupan manusia dan membentang beberapa masa setelah kita berpisah dengan permukaan bumi.”

Hidup adalah Pilihan

Kita, Saya, Anda bisa seperti mereka yang hidupnya lebih panjang dari umurnya. Tentunya dengan memilih menjalani hidup sebagaimana para tokoh besar itu menjalani hidupnya. Jalan yang menuntut keteguhan, kesabaran dan penuh dengan perjuangan. Tidak akan kita temui tokoh-tokoh besar yang tercatat dalam sejarah memiliki cerita hidup yang dipenuhi keberuntungan dan kesenangan. Hidup santai dan berfoya-foya. Sebagian besar kisah mereka dipenuhi kesulitan, perjuangan dan bahkan tetesan darah. Namun mereka tidak bersedih dan menjadi lemah karenanya. Justru mereka bahagia, karena mereka mencintai jalan itu. Jalan hidup para pejuang. Jalan hidup para nabi dan rasul. Jalan pintas menuju syurga Allah.

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[1260] dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.” (QS Faathir:32)

Kebermaknaan hidup.

Kebahagiaan hidup yang hakiki adalah dimana kita merasakan bahwa kehidupan kita telah memiliki makna. Kita telah mengukirkan catatan kebanggaan. Meninggalkan warisan berharga bagi generasi penerus umat. Semakin besar dan luas tingkat kemanfaatan kehidupan seseorang bagi umat maka semakin terasa lebih panjanglah hidupnya. Karena ia akan senantiasa diingat dan dikenang.



Leave a Reply