Unconditional Love dalam Konteks Membina dan Memberi

10 June 2011

Binalah pecahan-pecahan azzam yang tercecer diantara mereka ke arah yang lurus.
Buat mereka bersatu padu membina ukhwah yang terarah.
Maka engkau akan merasakan betapa pentingnya mereka dan betapa pentingnya Anda.

Berilah orang yang membutuhkan, karena memang Anda sangat dibutuhkan.
Jika tidak bisa memberi, yakini bahwa Anda dibutuhkan untuk memberi.
Niscaya karakter pemberi akan bersemi pada Anda

Di sebuah kota tinggal dua orang pengusaha dan seorang mentor bisnisnya. Suatu saat sang mentor mengajak dua orang pengusaha tersebut ke rumah makan dalam rangkaian memberi arahan. Suatu hal yang tidak biasa dirasakan oleh pengusaha tersebut. "Tumben Pak, kita mendapat materi di rumah makan?", celetuk seorang diantara mereka. Sang Mentor menyahut, "Tidak selamanya, teori sama dengan kondisi realistis kehidupan?". Pesanan makanan pun datang. Di waktu mereka makan dengan lahap, tiba-tiba sang mentor keluar seolah mengejar seseorang. Ternyata benar. Sang Mentor masuk rumah makan bersama ibu tua yang berpakaian lusuh dan tampak kelelahan.

Ibu tua tersebut ternyata seorang pengamen jalanan yang baru saja lewat. Pergi pagi dan pulang sore hanya untuk mencari recehan rizki yang disisihkan oleh orang yang peduli. Sang mentor memesankan makanan untuk ibu tersebut. Rasa minder nampak dari tingkah laku ibu tersebut karena tidak pernah seumur hidup makan di rumah makan. Setelah selesai makan, sang mentor mengarahkan ibu tua tersebut untuk berbicara dan menceritakan jalan hidupnya. Dengan haru ibu tersebut bercerita dan membuat dua pengusaha tersebut tertegun. Perjuangan seorang ibu yang hidup tanpa seorang suami untuk menghidupi lima putranya. Peristiwa itu menjadi pelajaran yang berharga bagi mereka.

Sekian tahun berlalu dua orang pengusaha tersebut hidup dengan damai. Selama itu mereka belum pernah bertengkar. Suatu hari seorang dari mereka berkata, “Tidakkah kau berfikir bahwa inilah saatnya kita bertengkar, paling tidak sekali saja?” Pengusaha kedua menyahut, “Bagus kalau begitu! Mari kita mulai. Apa yang kita pertengkarkan?”.Pengusaha pertama menjawab,”Bagaimana kalau sebongkah emas ini saja?”

"Baiklah, mari kita bertengkar karena sebongkah emas ini. Tapi bagaimana kita melakukannya?".  Pengusaha yang satunya menjawab, "Sebongkah emas ini punyaku. Ini milikku semua". Pengusaha kedua menjawab, "Kalau begitu ambil saja."

Para pembaca, penulis tidak bermaksud untuk menyederhanakan sebuah permasalahan. Terlepas dari fakta atau hanya cerita belaka, kedua kisah yang saling terkait tersebut memiliki hikmah yang bisa kita ambil. Bagaimana kecerdasan dan kemampuan seorang untuk memberikan sebuah pembinaan yang realistis kepada anak didiknya. Meski hanya memberi contoh dengan mengajak orang yang meminta-minta untuk makan bersama secara langsung menjadikan kedua pengusaha dalam contoh di atas langsung bisa memperoleh pelajaran yang berharga.

Jika kita menempatkan posisi diri pada pengusaha tersebut, maka saat itu kita akan sadar bahwasannya pengarahan dan pembinaan yang dilakukan oleh sang mentor adalah kejadian yang luar biasa. Di tengah-tengah kecukupan rizki yang diberikan kepada kita, jangan pernah membuat kita lupa terhadap mereka yang membutuhkan. Uluran tangan kita sangat berharga untuk mereka. Derma yang kita berikan meski sereceh uang perak seratus rupiah mampu membuat mereka tersenyum.

Peran seseorang untuk membina dan mengarahkan orang lain ke arah yang lebih baik sangatlah penting. Sungguh sangat ironis ketika kita mengakui bahwasannya setiap muslim adalah bersaudara kemudian membiarkan saudaranya yang tidak tahu apa-apa berbuat semena-mena tanpa mengambil peran sedikitpun baik langsung maupun tidak langsung. Salah jika kita menganggap ada orang lain yang lebih berhak untuk membina. Imam Syafi’i pernah menyeru kepada pemuda,"Jika kamu melihat ada pemuda yang tidak mau menyeru kepada kebenaran (berdakwah), maka takbirkan empat kali untuknya (sudah mati)".

Alangkah damainya dunia ini kalau kita bersifat seperti dua pengusaha tersebut. Mari kita renungkan, bukankan pertengkaran, perselisihan dan peperangan yang terjadi di dunia ini bersumber dari keinginan untuk meminta sesuatu dari orang lain? Kita ternyata lebih suka meminta, tetapi sayangnya kita tidak suka memberi.

Di tempat kerja, kita meminta bantuan bawahan, meminta pengertian rekan sejawat, meminta seseorang untuk melayani kita. Di masyarakat, mereka yang mengaku sebagai pemimpin selalu meminta pengertian dan kesabaran masyarakat, meminta masyarakat hidup sederhana. Sepertinya bahasa kita sehari-hari adalah bahasa meminta. Mengapa kita suka meminta tetapi sulit memberi. Ada logika yang sepintas masuk akal. Logika tersebut "Dengan meminta, milik kita akan bertambah. Sebaliknya, dengan memberi milik kita akan berkurang". Menurut penulis, hal inilah yang mungkin menimbulkan ketamakan dan perasaan takut berbagi.

Padahal hukum alam menyatakan sebaliknya. Justru dengan banyak memberi, kita akan banyak menerima. Kita perhatikan orang yang disenangi dalam pergaulan. Merekalah orang yang suka memberi. Sebaliknya orang-orang yang dibenci adalah orang yang pelit dan tak pernah memberi. Memberi tak selalu harus dengan materi dan uang. Seorang filsafat menyampaikan,"Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti". Ada banyak banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi. Kita bisa memberi perhatian, pengertian, waktu, pemikiran dan ucapan terima kasih bahkan memberi senyum”

Uncoditional love atau cinta tanpa syarat yang telah Alloh SWT  berikan pada makluk-Nya setidaknya bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita. Alloh SWT memberikan segalanya tanpa pilih kasih, tak peduli baik atau jahat. Enggan untuk memberi berarti enggan untuk belajar pada kehidupan itu sendiri. Sekali lagi memberi bukan harus dengan materi. Ada tenaga, ada waktu dan kesempatan, ada kemampuan yang bisa kita sisihkan untuk orang lain. Sumber kekayaan terletak dalam diri kita. Sayangnya sulit untuk disadari. Menyadarinya memang tidak mudah. Ibarat menggali permata di dalam bumi. Kita melakukan perjalanan dalam diri kita. Akan ada efek yang kita rasakan. Kita ada untuk berbagi, memberi dan berkontribusi.


Penulis: Widodo. (Alumni SDM IPTEK Angkatan I)

Aktivitas saat ini:

  • Supervisor Beastudi ETOS Surabaya
  • Tim Zakat Center Lembaga Kemanusiaan Nasional

Click di sini untuk profil lengkap penulis.



Leave a Reply