Jatuh-Bangun Demokrasi Indonesia

30 Maret 2009

Oleh: Herry Purnama Sandy*

Sebagai Negara yang berdasarkan atas system demokrasi, maka sudah sewajarnya Indonesia melaksanakan pemilihan umum untuk menentukan orang paling no satu di Negeri ini. Pemilihan ini dilakukan setiap lima tahun sekali dan harus dilakukan sebagai eksistensi sistem demokrasi yang telah dianut. System ini mengatasnamakan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang mempunyai hak paling besar dalam menentukan siapa yang menjadi wakil mereka di negeri ni.

Pemilihan ini dikerucutkan lagi manjadi partai politik yang masing-masing mempunyai kader yang berjanji akan mengabdikan dirinya pada negeri ini. Kader ini jelas bukan orang sembarangan, mereka tentu mempunyai kualitas yang memadai sebagai seorang pemimpin. Pertanyaannya, bagaimana persaingan mereka dalam memperjuangkan kursi yang hanya ada satu itu?

Banyak partai politik yang menarik minat masyarakat dengan menggunakan image fisik kader-kadernya, sehingga tidak heran jika banyak artis yang menjadi anggota parpol tertentu memperoleh suara yang lumayan banyak. Tetapi bagaimana mereka mempertanggungjawabkan peran mereka sebagai aspirator rakyat? Apakah mereka mempunyai kompetensi yang cukup baik untuk menjadi legislator yang memperhatikan kepentingan rakyatnya? Kita lihat saja kelanjutan dari perjalanan “sinetron” politik Indonesia.

Hal tersebut diatas masih sebatas calon legislatif yang akan memperjuangkan kedudukannya di kursi DPR. Bagaimana dengan calon Presiden? Tentu persaingannya tidak kalah menarik dengan yang lain. Ada yang mengatasnamakan rakyat sebagai sesuatu yang paling dekat dan wajib diperjuangkan, ada yang mengaku-ngaku bahwa selama ini dia bekerja atas nama rakyat dan menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat, ada yang bersenjatakan penurunan harga BBM, ada yang belagak jadi artis dengan sering muncul di TV, dan lain-lain yang mungkin jika dituliskan akan membuat patah tangan penulisnya. Sebenarnya tujuan mereka itu semua sama, menarik perhatian masyarakat supaya memberikan simpati kepada mereka. Tetapi hal itu menjadi sangat naïf jika mereka saling menjatuhkan satu sama lain.

Visi dan misi yang berbeda sebenarnya tidak menjadi suatu masalah karena tujuan nya sama untuk membuat Negara Indonesia menjadi lebih maju. Tetapi apa yang dilakukan para calon presiden saat ini sudah pada tahap saling menjatuhkan dan menghina proker-proker calon lain. Jika dibiarkan terus menerus hal ini akan menjadi budaya yang mengakar pada negeri ini. Saya yakin, siapapun yang menjadi presidennya nanti pasti akan mempunyai oposisi akibat ari persaingan yang seperti ini.

Jika tokoh oposisi semakin banyak, maka tidak mustahil bahwa pemerintahan presiden terpilih nanti akan menglami banyak hambatan. Dan yang paling parah akan terjadi pemberontakan di tengah-tengah pemerintahannya yang akhir dari semua ini akan mengakibatkan Indonesia menjadi semakin terpuruk, jauh dari angan-angan tentang keinginan menjadikan negeri ini sebagai negeri yang makmur dan sejahtera.

Perlu diingat bahwa kader-kader partai politik manapun yang mencalonkan diri sebagai presiden bukanlah anak kecil yang mudah tersinggung dengan yang lainnya. Jadi harus menyikapi semua permasalahan yang ada dengan bijak. Khusus buat calon Presiden Indonesia, Janganlah saling menjatuhkan satu sama lain dan berusaha untuk berdiri sendiri menuruti keegoisan yang ada dalam diri. Tidak bisa dipungkiri, kita semua hidup membutuhkan orang lain termasuk yang pernah menjadi lawan kita dalam berbagai aspek. Hiduplah untuk negeri dan buatlah negeri ini bangga pernah di pimpin oleh orang sepertimu. Sebenarnya kita dilahirkan untuk melengkapi dan bukan untuk menyaingi. We born to complete not to compete..

*Penulis adalah mahasiswa Teknik Industri ITS dan Peserta Program Pesma SDM-IPTEK.

Komentar