Kemandirian Energi Skala Rumah Tangga

16 Juni 2010

Biogas, siapa yang tidak mengenal dengan produk lawas yang sangat bermanfaat ini. Hanya dengan berbahan dasar limbah peternakan dan atau pertanian gas siap pakai untuk memasak pun didapatkan.

6 April 2010, perjalanan diawali dari Surabaya sekitar pukul 6.30 WIB. Hanya bertiga kami berencana melakukan studi lapangan hasil implantasi biogas di beberapa daerah di jawa timur yang telah dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Pare, Nganjuk, Ngawi, dan Magetan adalah daerah tujuan kami. 24 jam adalah waktu tersedia bagi kami untuk menyelesaikan proses studi lapangan tersebut.

Karena dokumentasi yang kurang sempurna, kami mengalami kesulitan untuk menuju titik-titik di beberapa kabupaten tempat instalasi biogas. Setelah beberapa menit dari waktu kehadiran kami di Pare akhirnya kami tiba di lokasi pertama. Di rumah bapak suwignyo, desa halmahera tempuran pelem, kami mendapatkan informasi bila biogas yang telah terinstal masih berjalan dengan baik. Belum ada keluhan khusus yang disampaikan selama pemanfaatan biogas dalam beberapa bulan terakhir.

Usai mengamati kondisi fisik instalasi biogas di rumah bapak suwignyo, kami bergegas menuju lokasi kedua di kabupaten yang sama. Di lokasi kedua kami menjumpai pak bahruddin, seorang petani di desa Tempuran Pelem, Pare. Instalasi di lokasi kedua kondisi masih bagus. Pak Bahruddin menyampaikan bila selama ini biogas menggantikan penggunaan LPG hampir 100% dalam aktivitas di dapur. Kecuali dalam keadaan mendesak, seperti ketika ada tamu yang berkunjung ke rumah, LPG digunakan baru digunakan.

————————————————————————————-

Perjalanan kami lanjutkan ke kabupaten Nganjuk.

Di kabupaten ini kami melakukan instalasi di dua lokasi. Yakni di desa mlinjo (di rumah Bapak Qusairi) dan desa Sumber Kepuh Tanjung Anom (di rumah Bapak Narko).

Di kediaman Bapak Qusairi kami menjumpai instalasi telah dibongkar dan digunakan untuk kolam pembesaran lele. Awalnya kami heran, tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri ternyata masih ada manfaat yang dapat didapatkan walau instalasi rusak. Di lokasi ini kami mendapatkan testimoni positif terkait instalasi biogas yang telah kami pasang. Disampaikan bila selama biogas beroperasi, LPG 100% tergantikan. Untuk aktivitas sehari-hari di dapur, biogas telah menjadi sumber energi utama untuk memasak. “Hampir 2 bulan kami tidak membeli LPG”, begitu terang beliau. Beliau juga menyampaikan bila performa biogas yang telah kami instal tidak kalah dibanding dengan LPG, bahkan tidak jarang mengalahkan LPG.

Kerusakan terjadi pada bagian digester, lambung digester yang kami pasang mengalami kebocoran dan terbelah di bagian tengah. Bahan plastik memang tidak dapat bertahan lama bila terkena benda tajam, tapi dengan penjagaan yang baik tentunya dapat menghindarkan hal itu terjadi.

Usai berbincang dengan Bapak Qusairi dan anggota keluarga di rumah tersebut kami bergegas menuju rumah pak Narko di desa sumberkepuh. Di lokasi ini kami juga mendapat informasi bila biogas telah dihentikan sejak bulan Desember. Desain tataletak inlet dan outlet yang belum optimal menyebabkan diperlukan energi lebih besar saat mengoperasikannya. Namun, pak Narko menyampaikan jika manfaat yang diberikan cukup besar. Selain itu, saat kami tawarkan untuk instalasi ulang di kesempatan berikutnya beliau menyambut dengan positif.

————————————————————————————-

bersambung

Komentar