Menciptakan Karakter Pahlawan untuk Peradaban Besar
23 Nopember 2008

Oleh
Aditya Rohmani*
Menjadi seorang individu yang hebat adalah individu yang paling bermanfaat untuk orang lain. Lewat pelajaran dari tokoh kepala sekolah SD Muhamadiyah Gantong dalam film Laskar Pelangi, pak Harfan dengan lantang berkata “ Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerina sebanyak-banyaknya”. Intinya manusia hidup itu adalah untuk meningkatkan level kemanfaatan kepada masyarakat. Disini sebagai individu di zaman kontemporer ini, kita diminta untuk menjiwai jiwa-jiwa yang ada pada pahlawan yang selama ini hidup hanya untuk mengabdi dalam rangka meningkatkan kapasitas kemanfaatannya kepada masyarakat banyak.
Sebagai seorang pahlawan tentunya harus memiliki sesuatu yang besar untuk menciptakan peradaban yang besar atas hasil kerja kerasnya. Suatu peradaban yang besar itu juga harus memiliki perangkat-perangkat yang membuatnya mampu bertahan terhadap perkembangan zaman yang ada. Perangkat-perangkat itu meliputi tiga aspek yakni :
a. Ide yang Besar
Suatu Peradaban yang dibangun pahlawan semilitan apapun tidak akan mampu bertahan menghadapi tantangan zaman tanpa adanya ide besar yang mendasarinya. Sebagai contoh pada tahun 1999 setelah bergulingnya pemerintahan orde baru yang telah mampu bertahan selama 32 tahun lebih, dengan didominasi partai dengan warna kuningnya yakni, Golkar akhirnya dikalahkan oleh basis masa partai marhain- PDIP- yang memiliki ide besar mengenai rakyat kecil atau marhain, tapi kenyataanya tidak mampu bertahan menghadapi perkembangan kemajuan rakyat Indonesia paska orde baru. Hal ini dikarenakan kurang kuatnya ide atau ideologi yang dibawa sehingga hanya terkesan jangka pendek saja.
b. Kapasitas Individu yang Besar dan Kuat
Kapasitas individu pada suatu zaman di suatu peradaban besar sangat berpengaruh terhadap kelanggengan peradaban itu. Sebagai contoh, peradaban di Indonesia yang dibangun dengan semangat kemerdekaan yang menggebu-gebu, memiliki tokoh revolusionis yang terkemuka di dunia dengan kapasitas yang tidak diragukan lagi di tingkat internasional, dialah Soekarno, sang proklamator, bapak kemerdekaan bangsa Indonesia. Selain Soekarno, kita juga jangan melupakan jasa bapak Pembangunan- Soeharto- yang dengan visi pembangunan jangka panjangnya mampu mempertahankan kekuasaannya selama 32 tahun walaupun diakhir pemerintahannya terkuak banyak skandal-skandal kasus KKN yang memalukan nama Indonesia. Tapi yang perlu digaris bawahi disini adalah kapasitas atau kemampuan individu dalam mempertahankan perjuangan itu mutlak diperlukan.
c. Tersedianya Sarana dan Prasarana yang Mendukung
Ide besar dan kekuatan kapasitas individu merupakan kemutlakan dalam menciptakan peradaban yang mapan. Disamping itu, diperlukan juga sarana dan prasarana yang menunjang bagi terwujudnya sistem perdapan yang mapan itu. Sarana dan prasarana itu meliputi, keadaan kondisi lingkungan yang memadai serta juga kekayaan SDA maupun SDM yang ada.
Di Indonesia sampai sekarang ini belum mampu menciptakan kondisi mutlak peradaban yang mapan dan berkembang terus. Tapi apabila kita mengaca pada 1429 tahun silam di Madinah, maka kita akan melihat sosok diri yang mampu menjadi pahlawan seumur hidup. Dialah Muhammad SAW yang mampu menciptakan peradaban yang besar, mampu menjangkau seluruh bentang dunia dan bertahan sampai sekarang walaupun beliau telah tiada. Kuncinya adalah penyatuan tiga perangkat diatas yang banar-benar solid dan menyokong satu sama lain.
• Penulis adalah Mahasiswa Teknik Kelautan ITS. Peserta Program Pembinaan Pesma SDM IPTEK.
Komentar
