Menyadari Potensi Diri Untuk Membangun Bangsa yang Besar
20 Februari 2009

Oleh: Miftakhul Falah*
Enam puluh empat tahun yang lalu, saat Ir. Soekarno membacakan teks proklamasi, timbulah sebuah harapan di seantero negeri ini, sebuah harapan yang besar untuk terbentuknya negara yang merdeka, negara yang diakui dunia karena kehebatannya, negara yang mandiri serta sejahtera. Waktu terus berputar, namun tak banyak cita cita mulia para pejuang yang telah bisa kita wujudkan sebagai generasi penerus.
Kita seharusnya malu, betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh pahlawan kita, yang mengorbankan semuanya untuk bangsa ini. Namun apa yang telah kita lakukan hari ini?Kita hanya meraih kepentingan pribadi tanpa mau mencari solusi bahkan hanya sekedar mengetahui permasalahan bangsa ini saja kita menutup telinga rapat-rapat. Jiwa-jiwa apatis inilah yang sangat menghambat terwujudnya cita cita mulia bangsa.
Kita seharusnya malu pada diri ini. Jika kita berkaca pada negara tetangga, Malaysia, disaat kita telah memproklamirkan kemerdekaan mereka masih berjuang melawan tank-tank penjajah. Negara yang di awal kemerdekaannya selalu belajar dari bangsa ini, namun sekarang telah jauh meninggalkan kita. Mereka telah menjelma menjadi negara yang disegani dunia. Tetapi betapa ironisnya, kita masih berkutat dengan berbagi permasalahan bangsa yang tak kunjung terselesaikan.
Mengapa ini terjadi?. Mari kita merenung sejenak. Sejarah mencatat bahwa prestasi-prestasi besar dilahirkan oleh mereka yang hampir setiap harinya tidak punya waktu untuk beristirahat. Mereka bekerja keras dengan menggunakan pikiran cerdas. Bangsa yang lebih maju adalah suatu bangsa yang selalu bekerja keras dan cerdas. Adapun bangsa yang tertinggal adalah bangsa yang malas. Benyamin Franklin mengatakan bahwa “malas adalah pangkal kemiskinan”, sedangkan Leonardo Da vinci mengatakan bahwa “malas adalah pangkal kebodohan”. Jika bangsa kita dikategorikan bangsa yang tertinggal, maka kita harus segera sadar bahwa kita adalah bangsa yang malas. Betapa banyaknya siswa sekolah kita yang bermalas-malasan dalam belajar, betapa banyaknya pegawai negeri yang keluyuran di saat jam kerja, betapa banyaknya masyarakat negeri ini yang pasrah pada keadaan karena mereka malas untuk melakukan suatu perubahan.
Alangkah besar kerugian yang dialami negeri ini karena hal-hal tersebut. Alangkah banyak waktu yang terbuang dikarenakan seringnya kita bermalas-malasan. Mari kita bayangkan, jika pegawai negeri kita tidak melaksanakan tugasnya 1 jam saja secara maksimal, mungkin jika hanya 1 orang saja tak berakibat apa-apa. Namun jika yang melakukan hal tersebut satu juta pegawai negeri, maka satu juta jam akan terbuang secara percuma. Betapa banyak waktu tesebut jika digunakan secara optimal untuk membangun negeri ini.
Tentunya kita harus segera bangkit dari kemalasan kita untuk merih kesuksesan hidup. Karena kesuksesan suatu bangsa merupakan akumulasi dari kesuksesan pribadi warganya. Dan kegagalan pribadi adalah awal dari kegagalan suatu bangsa.
Sungguh, bangsa ini dikaruniai banyak nikmat oleh Allah SWT. Sumber daya alam yang melimpah, rakyat yang besar, wilayah yang luas, daratan yang subur, laut yang penuh potensi dan umat Islam terbesar di dunia ada di negeri yang kita cintai ini. Namun, kita tidak pernah menyadari makna potensi besar yang dimiliki bangsa ini. Kita tidak pernah sadar bahwa sumber daya alam ini tak dimiliki oleh negeri adidaya Amerika, jumlah penduduk yang besar ini tak dimiliki negeri yang maju seperti Jepang, dan wilayah negeri dari Sabang sampai Merauke ini tak dimiliki macan asia seperti Singapura. Bahkan umat Islam yang besar ini tak dimiliki oleh negara manapun. Kita seharusnya menghayati diri bahwa dengan potensi seperti ini, kita ibarat singa di hutan, kita adalah ikan paus di lautan dan kita sebenarnya adalah Majapahit yang digdaya dan adikuasa. Kita layak untuk menjadi bangsa yang lebih baik dari sekarang, bahkan kita pun layak menjadi pemimpin bangsa-bangsa lain.
Bahkan dengan potensi umat Islam yang luar biasa ini, Allah telah memberi predikat pada kita sebagai umat terbaik di muka bumi ini. Firman Allah :
“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”. (Q.S. Ali Imran 110)
Oleh karena itu, kita harus mempunyai mental sebagai umat terbaik, yang selalu memanfaatkan tiap detik putaran jam dinding secara optimal. Umat yang selalu bekerja keras dan cerdas. Umat yang selalu diridhoi Allah tiap langkahnya. Dan jika itu terjadi, bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar dan akan menjadi inspirasi kebangkitan umat Islam.
* Mahasiswa Teknik Kimia FTI ITS, kini sedang nyantri di Pesantren SDM IPTEK Surabaya.
Komentar
