Perpaduan Pendidikan Islam dan Sains

16 Desember 2008

Oleh: Sulthoni Akbar.*

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Jumlah yang begitu besar menjadikan sebuah keunggulan sekaligus masalah. Keunggulan dapat diraih ketika, umat Islam mampu menjadi frontier atau ujung tombak pembangunan negara dan mewujudan kemakmuran seluruh rakyat yang berlandaskan nilai-nilai keIslaman. Sedangkan jumlah yang begitu besar juga bisa menjadi masalah, ketika umat Islam tidak mampu mengimplementasikan nilai-nilai keIslaman, mewujudkan kemakmuran dan tidak mampu menunjukkan kualitasnya sebagai seorang muslim (khalifah) utusan Allah di bumi ini. Kenyataan sekarang yang terjadi adalah umat Islam belum banyak berperan dalam menyelesaikan problem umat maupun bangsa.

Berbicara tentang sumber daya manusia, umat Islam harusnya dapat memberikan konstribusi yang besar linier sebanding dengan jumlahnya. Akan tetapi, dengan kuantitas yang besar, ternyata belum sebanding dengan kualitasnya. Jadi sebenarnya, ada yang salah dengan sistem pendidikan yang dimiliki dan diimplementasikan oleh umat Islam saat ini. Mengapa demikian?. Karena sistem pendidikan erat kaitannya dengan transformasi ilmu yang bisa mempengaruhi pola pikir, dan perilaku manusia. Jika sistem pendidikan salah, bisa jadi kebaikan ilmu akan lenyap.

Bila dianalisis lebih jeli selama ini, khususnya sistem pendidikan Islam seakan-akan terkotak-kotak antara urusan duniawi dengan urusan ukhrowi. Ada pemisahan antara keduanya. Sehingga dari paradigma yang salah itu, menyebabkan umat Islam belum mau ikut andil atau berpasrtisipasi banyak dalam agenda-agenda yang tidak ada hubungannya dengan agama atau sains sebaliknya. Sebagai permisalan tentang sains, sering kali umat Islam Phobia dan merasa sains bukan urusan agama. Dalam hal ini ada pemisahan antara urusan agama yang berorientasi akhirat dengan sains yang dianggap hanya berorientasi dunia saja.

Sejarah telah mencatat, pada awal abad VIII umat Islam telah menorehkan tinta emas kemajuan iptek jauh sebelum terjadinya revolusi Industri yang diagung-agungkan bangsa Eropa. Kala itu, Ilmuwan-ilmuwan Islam dapat meletakkan dasar kemajuan iptek yang tentu saja atas dasar agama. Diantara ilmuwan seperti, Abu Bakr Muhammad bin Zakariya ar-Razi (Razes [864-930 M]) yang dikenal sebagai ‘dokter Muslim terbesar’, atau pakar kedokteran Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina (Avicenna [981-1037 M]) yang hasil pemikirannya The Canon of Medicine (Al-Qanun fi At Tibb) menjadi rujukan utama ilmu kedokteran di eropa. Al Kawarijmi Jabir Ibnu Hayyan yang meninggal tahun 803 M disebut-sebut sebagai Bapak Kimia. Algoritma yang kita kenal dalam pelajaran matematik itu berasal dari nama seorang ahli matematik Muslim bernama Muhammad bin Musa Al-Khwarizmi (770-840M) (http://hasyimibrahim.wordpress.com ).

Ilmuwan muslim telah diakui menjadi ”jembatan” yang menghubungkan Pra-revolusi dengan kemajuan eropa melalui revolusi industri yang sempat diklaim merubah dunia. Lantas apa yang menyebabkan Islam dapat bersinar kala itu?. Alasannya adalah peran Islam dalam mengembangkan iptek sangatlah luar biasa. Selain ilmuwan-ilmuwan yang bekerja keras, ditambah pemerintahan yang mendukung dengan rela menyewa penerjemah-penerjemah untuk menenjemahkan warisan-warisan ilmuan kuno Yunani. Sehingga nampak bahwa Islam tidak hanya berorientasi pada agama, tetapi juga turut mengembangkan iptek yang sebelumnya dianggap berorientasi pada dunia.

Saat ini bangsa Eropa dan Amerika sedang berada pada posisi atas, mereka memegang peran yang signifikan dalam penguasaan seluruh tataran kehidupan di dunia. Hal ini sesuai dengan Sunatullah yang menyebutkan bahwa, akan ada pergiliran kekuasaan di antara manusia dan ini adalah sebuah kepastian. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) …” Namun pergilirian ini terjadi, selain atas izin Allah, juga bergulir sesuai dengan sunatullah yang lain yaitu usaha keras bangsa Eropa dan Amerika dalam penguasaan berbagai macam disiplin ilmu. Salah satunya adalah sains.

Oleh karena itu, umat Islam harus mengusahakan agar roda itu terus berputar hingga suatu saat nanti giliran umat Islam berada pada posisi diatas dengan cara memadukan Islam dan sains melalui sistem pendidikan. Sehingga Umat Islam dapat menggenggam dunia dengan sistem yang lebih baik dari sekarang. Dan perlu dingat, bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, bila kaum itu yang merubah keadaannya sendiri.

Penulis Mahasiswa S1 Jurusan Fisika Sains ITS Surabaya. Aktif sebagai Ketua Kajian Strategis KAMMI ITS. Dan menjadi Peserta Program Pesantren Mahasiswa Yayasan Pengembangan SDM IPTEK Periode 2008-2010.email: alkahfi_12@yahoo.com

3 Responses to “Perpaduan Pendidikan Islam dan Sains”

  1. Liska on Januari 15th, 2009 5:31 pm

    Assalamu’alaikum. .
    Sukron ats infona,bs utk tmbhn materi tgs ana. .

  2. Dwi Setiyono on September 28th, 2009 10:57 am

    Alhamdullillah,

    Saya dapat berita dan informasi yang sangat bagus, syukron mas sulthon,
    Wassalam,

  3. rizal on Februari 10th, 2010 3:34 pm

    Trima kasih banyak atas infonya, saya jadi tahu tentang sains islam…

Komentar