Pesma SDM Iptek, Pesantren Khusus Mahasiswa ITS Berprestasi

12 Oktober 2008

Rekrut Santri Ber-IPK 3, Ajarkan Technopreneurship.

Pesantren yang mendidik soal agama sudah biasa. Tapi, Pesantren Mahasiswa Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan Teknologi (Pesma SDM Iptek) mencoba menggabungkan pemahaman agama dengan teknologi.

AGUNG PUTU ISKANDAR.

Dua unit komputer berdampingan diletakkan di sebuah ruangan di belakang ruang tamu Pesma SDM Iptek, Jalan Keputih Tegal Timur 42, Kamis (9/10), sore. Dua orang tampak sibuk mengutak-atik sebuah situs pencari.

Di belakang ruangan yang didominasi cat jingga terang itu terdapat ruang lapang berukuran 10 x 6 meter. Ruangan tersebut diapit sebelas kamar masing-masing di sisi selatan, timur, dan barat. Di kusen menuju ruangan tersebut ada tulisan Aula Cordoba.

“Di sini biasanya tempat aktivitas teman-teman,” kata Manajer Kemitraan Pesma SDM Iptek Puguh Sudarminto sambil menunjuk beberapa lelaki yang sedang sibuk mengerubuti kertas dan koran. Mereka, kata Puguh, sedang mempersiapkan halal bihalal yang akan diadakan besok (12/10).

“Yang hadir nanti para dewan pembina Pesma SDM Iptek,” kata alumnus Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Puguh lantas menyebutkan beberapa nama beken di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang menjadi dewan pembina. Mereka, antara lain, Koordinator Program Pascasarjana Teknik Kelautan ITS Ir Mukhtasor MEng PhD dan mantan Ketua Dewan Pendidikan Ir Daniel Rosyid PhD.

Pesma SDM Iptek, menurut Puguh, didirikan Yayasan Pengembangan SDM Iptek. “Baru Agustus lalu di-launching,” katanya. Sementara itu, yayasan yang menaungi didirikan sejak 2006.

Para pendiri yayasan, ujar Puguh, umumnya berasal dari ITS. “Tanah seluas 600 meter persegi yang kami tempati ini dipinjamkan salah seorang staf ahli Pak Nuh (Menteri Komunikasi dan Informasi Ir Mohammad Nuh, mantan rektor ITS). Dia juga mengucurkan dana ratusan juta rupiah untuk bangunannya,” terangnya. “Tapi, namanya jangan disebut lah. Beliau tidak berkenan,” imbuhnya.

Puguh lantas mengambil sebuah nampan beling yang berisi gorengan. Bentuknya seperti keripik, tapi tidak terlalu tipis. ”Ini namanya ayam crunchy. Itu jamur yang dilapisi tepung, kemudian digoreng. Renyah lho,” tuturnya.

Menurut dia, gorengan itu termasuk hasil kreasi santri Pesma SDM Iptek. “Satu bungkus Rp 4 ribu,” katanya.

Manajer Sumber Daya Manusia Pesma SDM Iptek Efendi menuturkan, jajanan renyah itu diproduksi di pesantren. Ada dua orang yang dipekerjakan untuk menjajakan hasil kreasi mereka dengan gerobak.

Selain itu, jajanan tersebut disebarkan ke sekolah-sekolah. Masing-masing sekolah dipasok 60-80 bungkus. Mereka juga menggelar dagangan di Plaza Tunjungan dan Royal Plaza. ”Satu hari omzetnya Rp 1,5 juta. Ya, itu masih kotor sih, belum bersih,” katanya.

Omzet tersebut, ujar lelaki 26 tahun itu, sebenarnya masih bisa didongkrak. Apalagi, banyak gerai yang menginginkan tambahan ayam crunchy. Namun, karena keterbatasan tenaga, mereka hanya bisa memproduksi sebanyak itu.

Lelaki asli Nganjuk itu menuturkan, pesantren tersebut didirikan untuk memberikan bekal agama, kemasyarakatan, dan kewirausahaan berbasis teknologi.

Mahasiswa yang menjadi santri dididik agar memiliki jiwa sosial dan agama yang tinggi. Sebab, kata lulusan teknik mesin itu, banyak insinyur yang menjadi biang kerusakan alam. ”Lihat saja di pertambangan, limbah yang dibuang seenaknya di sungai, penggundulan hutan. Itu semua acc-nya insinyur,” ujarnya.

Karena itu, kata lelaki yang namanya hanya terdiri atas satu kata itu, pesantren tersebut dibuat agar para insinyur yang dihasilkan ITS tidak menjadi penyebab kerusakan alam. Bahkan, diharapkan alumni ITS menemukan teknologi ramah lingkungan.

Dari mana santri direkrut? ”Semua mahasiswa ITS,” jawab Puguh. Mahasiswa yang direkrut saat ini 20 orang. Mereka berasal dari berbagai jurusan yang berbeda. Misalnya, dari teknik mesin dan teknik lingkungan.

Mereka yang menjadi santri, tutur dia, harus melalui beberapa persyaratan. Misalnya, indeks prestasi kumulatif (IPK) harus tinggi. Paling tidak di atas tiga. Puguh lantas menunjukkan daftar nama santri lengkap dengan asal jurusan dan IPK-nya.

Sekilas, dua puluh mahasiswa itu IPK-nya diawali dengan angka tiga. Namun, dua santri ternyata memiliki. IPK sekitar 2,8 dan 2,9. ”Ya, ada juga yang agak rendah. Kalau yang seperti itu, biasanya aktivitas organisasi di kampus padat. Kita maklum lah,” ujar Puguh, lantas tersenyum.

Selain itu, lanjut lelaki asli Jombang itu, mahasiswa yang diterima di Pesma SDM Iptek harus terlibat aktif di organisasi mahasiswa. ”Yang tidak kalah penting, mereka juga harus mengikuti kegiatan keagamaan di kampus,” tegasnya.

Mereka yang menjadi santri, ujar dia, mendapat berbagai fasilitas. Selain tempat tinggal, mereka memperoleh berbagai pelatihan. Mulai pelatihan kepemimpinan hingga technopreneurship. Yakni, pelatihan yang menggabungkan teknologi dan kewirausahaan.

Technopreneurship, menurut dia, menggabungkan penguasaan teknologi dan kemampuan berwirausaha. Pembelajarannya lebih ditekankan pada penciptaan teknologi yang bisa menunjang kegiatan wirausaha.

Bukan hanya itu, mereka juga menciptakan teknologi yang tepat guna. Seperti yang pernah mereka lakukan untuk warga Mojokerto. Dengan memanfaatkan kotoran hewan ternak, mereka menciptakan gas. ”Namanya biogas. Lumayan, banyak masyarakat yang terbantu,” kata Puguh.

Efendi menambahkan, yang tak kalah penting adalah pelatihan kepemimpinan. Setiap santri dididik untuk menjadi pemimpin. Tenaga trainer didatangkan dari Trustco, sebuah lembaga penyedia jasa pelatihan.

Para santri, kata dia, dianggap sukses apabila di kampus mereka menjadi pemimpin, baik di tingkat jurusan maupun fakultas. ”Masak kami mendidik susah-susah, mereka hanya menjadi pesuruh di kemahasiswaan. Kan eman-eman ilmunya,” katanya.

Meski begitu, khitah pesantren tak lantas ditinggalkan. Pada hari-hari tertentu, para santri mengajar mengaji untuk anak-anak tidak mampu di lingkungan sekitar. Selain itu, mereka memberikan bimbingan belajar. Bahkan, melalui program Pembinaan Seleksi Olimpiade Terpadu (PILOT), para santri memberikan bimbingan belajar kepada siswa SMP dan SMU yang hendak mengikuti Olimpiade Sains dan Matematika. ”Kami bekerja sama dengan Lembaga Science Center ITS,” kata Puguh.

Selain itu, kajian khas pesantren pun tak ditanggalkan. Setelah salat Subuh, para santri diharuskan untuk mengikuti kajian. Mulai kajian tahsin, tilawah, sejarah dunia, hingga tafsir. ”Kami mencetak leader yang bervisi Islam,” katanya. (oni)

[JAWAPOS, Sabtu, 11 Oktober 2008]

One Response to “Pesma SDM Iptek, Pesantren Khusus Mahasiswa ITS Berprestasi”

  1. ema on Nopember 14th, 2008 10:13 am

    aslmlkm wr.wb

    sukses deh buat dek puguh, keren nih gelar pean, MANAJER PESMA SDM ITS cie…. :)
    eh katanya mau bikin “home scholing school” ? gimana ? dah jalan apa masih jalan-jalan di tempat aj ?

    sy pengen kembali ke surabaya, mungkin ntar qt bisa kolaborasi memberdayakan SDM tmen2 (termasuk sy) biar focus dengan pendidikan dan anak-anak berkebutuhan khusus. oia kul pean lo di slesaikan deh biar g mubadzir…
    key maan najah sll. salam untuk temen2 ya, pean masih aktif kan !

    n buat peliputnya, pak putu iskandar he..hee.. lain kali jangan ketinggalan kreta ya, ada acara pelayaran bahari neh, mau ikutan lagi g ?
    thans. jzk

    wslm. wr.wb

Komentar