Resume Kegiatan Pesma SDM IPTEK bulan Oktober
5 Nopember 2009
1) Kajian Tafsir
Oleh : Ustadz Nurcholis
Dalam pembahasan Kajian tafsir yang pertama ini , ustadz Nurcholis membedah tema intisari iman. Pemaknaan terhadap iman dikupas dalam sudut pandang bahasa mahasiswa. Dalam pengertiannya, iman merupakan proses kejiwaan yang berhubungan dengan segenap dimensi rohani, yang meliputi akal, keinginan, dan perasaan manusia. Allah melihat iman seseorang dalam takaran dimensi hati dan amal. Dalam hal ini iman benar-benar melekat dan masalah privasi dari seseorang.
Sebagai mahasiswa yang bergerak dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bukanlah takaran ilmu akademis yang membuat orang bahagia, tetapi ilmu agama. Namun penting untuk menguasai wawasan akademis. Dalam hal ini harus diyakini bahwa hukum Allah adalah tanpa keraguan.
“Sesungguhnya oang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu”, Q.S. Al Hujurat: 15
Jika menilik apa yang telah tersurat di atas, maka segala masalah dan problematika ini tempat kembali segala perkara adalah kepada Allah Al Haq serta rosul Nya, Muhammad.
2) Kajian Fiqih
Oleh : Ustadz Nurcholis
Kajian fiqih diawali dengan pengertian dari fikih sendiri. Dalam konteksnya, fiqih berarti pemahaman. Tema yang diangkat yaitu perihal Thoharoh. Thoharoh merupakan hal dasar yang selalu disampaikan dalam fikih. Karena penting dan urgenya karena langsung berkaitan dengan ibadah mahdlah manusia.
Banyak ijtihad yang membahas kidah thoharoh, yakni dari 4 madzhab , syafi’I, hambali, maliki, dan hanafi. Pembahasan seputar jenis-jenis air mengawali pertemuan kajian fiqih ini. Pembagian air menjadi 3 yaitu :
1. Air suci mensucikan
2. Air suci tak mensucikan
3. Air mutannajis
3) Training Jurnalistik
Oleh : Aditya Abdurrahman
Topik yang diangkat kali ini yaitu mengenai Media sebagai alat dakwah yang efektif. Dalam masa ini yang penuh dengan persaingan isu, khususnya dakwah sangat memerlukan tips dan trik untuk dapat mengena pada target dakwah. Mas Adit menyebut saat ini sebagai masa komunikasi visual dimana media-media selalu meonjolkan inovasi dalam hal pengemasan produk untuk dapat menarik minat konsumen.
Dalam menulis kita akan menemukan karakteristik tulisan kita. Hal ini tergantung referensi dan kekayaan wawasan dari sang penulis. Menurut beliau, tulisan yang bagus itu muncul karena inputan yang didapatkan oleh penulisnya juga bervariasi. Budaya membaca harus dimiliki oleh para calon pemain di dunia sastra khususnya tulisa-menulis.
Perlu kita memperdalam dan mengasah gaya atau karakteristik tulisan kita dengan mencari model referensi. Misalnya, sebagai seorang yang melankolis akan sangat match ketika kita membaca karya Salim Affilah yang penuh kepuitisan, atau dengan membaca tulisan sari Anis Matta. Meskipun mereka memiliki gaya melankolis, namun karakternya sangat berbeda. Hali inilah yang harus kita cari dan kembangkan. Dengan mencari model yang kita anggap setipe dengan kita, maka secara tidak langsung kita akan semakin mengasah karakter tulisan kita namun tetap dengan kekhasan yang berbeda dari model referensi yang kita ambil.
Yang berikutnya mengenai target atau segmet yang kita bidik. Dalam hal ini kita perlu melihat siapa yang akan menjadi objek pembaca tulisan kita. Tidak mungkin kelompok mahasiswa ammah kita suguhkan hal-hal yang formal dan memberikan shock terapi secara mengejutkan. Perlu ada treatment sendiri, karena kita melihat dari sudut pandang pembaca.
Yang terakhir, Mas Adit menggarisbawahi masalah visual, ataup pengemasan tulisan. Hal yang formal dan kaku tidak akan mengena pada segment remaja. Perlu pendekatan visual yang lebih sesuai dimana pengemasan yang lebih gaul dengan tampilan minimalis ala kawula muda.
4) Training Kewirausahaan
Oleh : Budi Bayu Mahardika
Training kewirausahaan kali ini membahas mengenai strategi bisnis, dimana dalam setiap usaha dalam wirausaha perlu memperhatikan beberapa aspek yang mungkin menghambat serta strategi untuk pengembangannya. Hal ini sesuai dengan background dari pembicara, yang acap dipanggil Mas Dika, yang aktif di SNF Consulting.
Menurut Mas Dika, orang yang ingin cerdas secara finansial hanya ada dua opsi, yaitu investor dan atau pengusaha. Investor dalam artian mencari aset penting yang dapat dikembangkan, sedangkan sebagai pengusaha berarti harus membangun sebuah sistem bisnis yang efektif.
Dalam statistik, persentase wirausaha masih rendah dalam kisaran 0.18 persen. Menurut Mas Dika hal ini masih kurang. Paling tidak 2 persen Indonesia bisa dikatakan cukup baik. Coba bandingkan dengan Singapura yang sampai 7 persen.
Kewirausahaan harus diajarkan sejak kecil. Hal in untuk menumbuhkan budaya mandiri dan effort pada sang anak. Dalam islam hal ini nampak dari proses yang diajarkan pada Rosulullah. Dari sang kakek yang memberikan kesempatan menggembala kambing di usia dini melatih jiwa entrepreur Rosulullah.
Dalam bisnis kita harus bisa melihat pesaing-pesaing yang ada. Ada lima model pesaing yang ada :
1. Tradisional
Contoh : Penjual yang sama-sama membuka usaha warkop.
2. Substitusi
Contoh : Penjual es teh merupakan pesaing dari penjual es dawet
3. Kekuatan pemasok
4. Pembeli
5. Pendatang baru
Untuk skala mahasiswa tidak perlu muluk-muluk dalam menetapkan satandard usahanya. Mahasiswa masih kurang concern karena masih ada amanah lain, jadi penetapan asal mandiri adalah cukup realistis adalah lebih cocok untuk mahasiswa. Yang penting pernah merasakan pengalaman ataupun atmosfer wirausaha. Misal main proyekkan, ataupun bimbel, dsb.
Komentar
