Solusi Produktif Dalam Mengurangi Banjir

23 Maret 2009

Oleh : Widodo*

Indonesia merupakan salah satu Negara yang terletak pada digaris khatulistiwa. Letak inilah yang memungkinkan Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Ketika musim kemarau tidak sedikit daerah di Indonesia yang mengalami kekeringan. Kejadian ini biasanya dialami oleh daerah-daerah yang tandus. Akan tetapi, saat musim hujan tiba, terkadang banyak orang kebingungan karena banyak terjadi longsor dan banjir yang diakibatkan oleh hujan deras. Dan banjir inilah yang menjadi permasalahan dua tahun terakhir ini.

Berbicara masalah banjir, Saya teringat suatu tempat. Saat berjalan-jalan mengelilingi ITS utamanya disekitar FMIPA, Saya sering menjumpai kolam-kolam buatan. Kolam tersebut sepintas hanya menambah keindahan. Manfaat lain yang didapat dari kolam-kolam tersebut antara lain dapat mengurangi jumlah genangan air ketika musim hujan. Kolam tersebut dapat menyimpan air hujan sehingga genangan air akibat derasnya hujan berkurang. Dari kejadian tersebut, penulis terinspirasi untuk menyampaikan gagasan ini.

Akhir-akhir ini banyak daerah di Jawa Timur terkena banjir akibat luapan sungai Bengawan Solo. Sekali lagi, banjir tersebut karena luapan air. Intinya daerah aliran sungai tidak mampu menampung jumlah air yang mengalir. Volume air sungai naik karena adanya tambahan dari air hujan. Daerah di sekitar sungai otomatis akan terkena imbasnya. Banyak rumah-rumah penduduk yang tergenangi air. Jika penduduk hanya dihimbau untuk mengungsi saat terjadi banjir, kemudian mereka kembali saat air mulai reda tidak akan menghasilkan hal yang efektif. Hujan bisa dimungkinkan untuk datang lagi dengan curah hujan yang lebih tinggi dan mengakibatkan banjir. Penduduk akan dirugikan lagi oleh banjir tersebut.

Kemudian bagaimana untuk mengatasi banjir tersebut? Tidak mudah memang menanggulangi peristiwa yang datangnya sulit diprediksi. Akan tetapi setidaknya ada cara yang dilakukan untuk bisa mengurangi dampak banjir –yang telah menggenangi rumah-rumah penduduk. Hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah mengetahui penyebab banjir tersebut. Jika hanya dihindari tanpa usaha untuk mencegahnya, bisa dipastikan akan terulang lagi. Banjir masih bisa datang sewaktu-waktu. Untuk itu diperlukan proses untuk mencegah terjadinya banjir, atau paling tidak bisa mengurangi.

Hujan yang deras akan berpotensi mengakibatkan terjadinya banjir. Luapan banjir tentu tidak akan memilih-milih tempat. Di mana ada tempat yang lebih rendah pasti akan tergenangi. Tidak terlalu bermasalah jika yang tergenangi adalah daerah perkebunan atau pertanian. Penduduknya masih bisa terhindar, akan tetapi, jika yang terkena banjir adalah daerah pemukiman penduduk bisa berakibat lebih fatal. Berbagai aktivitas bisa berhenti total. Kecenderungan terjadinya permasalahan social dan kesehatan akan menjadi besar. Diketahui bersama, tidak semua daerah di sisi sungai berupa rumah penduduk. Ada yang berupa rawa atau pertanian, tidak sedikit berupa rumah penduduk

Debet air di sungai pada saat hujan deras bisa dipastikan akan bertambah. Jika aliran sungai tidak mampu menampungnya, maka akan terjadi luapan air. Dearah dipinggir sungai akan terkena genangannya. Salah sebab terjadinya luapan karena, daerah aliran sungai kurang bisa menyerap air yang mengalir. Untuk menambah daya serap air, maka sungai tersebut harus dibuat lubang yang bisa menyerap air. Jika lubang tersebut dibuat oleh manusia rasanya tidak mungkin. Kita masih bisa memanfaatkan hewan sebagai pembuat lubang atau pori di sekitar aliran sungai. Teknik tersebut sering dikenal dengan biopori, membuat lubang pori pada aliran sungai dengan bantuan hewan dalam hal ini adalah belut.

Belut merupakan hewan melata yang bentuknya mirip ular,tetapi tidak berbahaya. Selama ini belut dimanfaatkan untuk makanan saja. Belut ini hidup di tempat yang tanahnya memiliki banyak kandungan air. Jika banyak belut yang dibudidayakan di dearah sekitar aliran sungai bisa membuat pori-pori disungai tersebut. Kelemahannya, jika memang dijadikan budidaya sulit untuk di panen karena perpindahan dari belut sulit diketahui saat membuat pori.

Akan tetapi, jika kita ingin mengurangi dampak dari luapan air dari sungai cara ini cukup efektif. Terlepas dari budidaya belut. Cukup mencari belut kemudian dilepas ke sungai. Belut akan berkembangiak dengan sendirinya sehingga jumlahnya bisa bertambah. Cara ini memang sudah pernah ada, akkan tetapi, kurang mendapat respon dari berbagai pihak. Masyarakat belum banyak yang tahu tentang cara ini. Selama ini belut hanya diketahui sebagai sumber protein hewani saja.

Cara pencegahan yang lain adalah pembuatan “temporary lake” ( danau sementara). Cara ini terbesit karena kejadian yang Saya sampaikan diatas. Adanya danau buatan yang ada disekitar jurusan-jurusan FMIPA ITS, dapat mengurangi volume genangan air. Cara ini dapat diterapkan oleh daerah yang sering terkena imbas dari luapan air. Secara fisis air akan mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang rendah. Prinsip inilah yang harus diterapkan nantinya saat pembuatan temporary lake.

Bagaimana membuat temporary lake ini? Sebelumnya perlu diketahui, bahwa untuk membuat danau tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Satu atau dua hari selesai tidak akan selesai. Diperlukan pemikiran untuk membuatnya. Tempat pembuatan menjadi hal yang harus diperhatikan. Tujuan utama dari pembuatan danau ini adalah sebagai penampung air dari luapan air di sungai yang dikhawatirkan menyebabkan banjir. Pembuatan danau ini sebaiknya ditempatkan di dekat sungai yang berpotensi menghasilkan banjir ditiap tahun. Kemudian di cari daerah yang bukan merupakan pemukiman. Memang disini harus ada lahan yang harus dikorbankan untuk tempat pembuatan danau sementara tersebut.

Danau tersebut dibuat di pinggir sungai dengan jarak sekitar lima sampai tujuh meter. Dihubungkan dengan sungai. Tentunya diperlukan katup pehanan air. Tujuan katub ini adalah untuk membuka atau menutup sesuai kebutuhan. Saat air sungai diprediksi akan meluap, katup tersebut dibuka untuk mengurangi jumlah luapan air. Air sungai yang mengalir memang dalam waktu tertentu sangat banyak maka diperlukan adanya temporary lake yang jumlahnya lebih dari satu. Jadi dengan adanya danau sementara tersebut arah luapan air sungai bisa diarahkan. Kalaupun terjadi luapan tidak terlalu besar.

Pertimbangan lain yang diperlukan saat pembuatan adalah aliran sungai. Sungai yang alirannya deras berpotensi memiliki aliran laminar. Aliran laminar merupakan aliran air yang lurus mengikuti arah daerah aliran sungai. Danau sementara terletak di pinggir sungai. Untuk memaksimalkan jumlah air yang mengalir ke danau sementara, air sungai tersebut harus dibuat aliranya terbulensi. Aliran turbulensi merupakan aliran yang berputar-putar. Jika di dekat penghubung dengan danau sementara dibuat beraliran turbulensi, maka debit air yang mengalir masuk akan lebih besar. Untuk membuat aliran turbulensi tersebut dapat dibuatkan semacam tiang penghalang yang kuat di tengah sungai dekat penghubung. Cukup dua atau tiga saja agar tidak terlalu menghalangi aliaran sungai.

Danu sementara hanya berfungsi ketika musim hujan untuk menampung air sungai. Bagaimana jika musim kemarau ? Pada musim kemarau danau tersebut bisa menjadi kering. Dan biasanya air sungai membawa pasir yang bisa digunakan untuk kepentingan bangunan sehingga dari segi ekonomi dapat menambah penghasilan tersendiri. Jika memang daerah tersebut diproyeksikan untuk menahan air musi selanjutnya, pada musim kemarau bisa dimanfaatkan untuk hal yang lain. Misalnya, jika airnya kering kemudian dibersihkan dapat digunakan sebagai pasar malam. Bisa juga dijadikan area pertanian, tentunya dengan pertimbangan ketika menanam harus memperhatikan waktu atau musim.

Biopori dan pembuatan temporary lake bisa diterapkan untuk mengurangi dampak banjir yang pada setiap musim hujan menjadi permasalahan utama. Efektivitas akan diperoleh jika ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam hal kesadaran dalam mengatasi masalah bersama yaitu Banjir.

* Mahasiswa Fisika FMIPA ITS, peserta PESMA SDM IPTEK

2 Responses to “Solusi Produktif Dalam Mengurangi Banjir”

  1. Bung Sulton on Maret 24th, 2009 12:21 pm

    Bagus sekalitulisan laskar2 SDM IPTEK (Widodo). Kayaknya sangat layak untuk dikirimkan ke Media. InsyaAllah dimuat!!!. Untuk Admin mohon klo ada tulisan yang bagus,agar dicoba dikirim ke media.

    Saya menambahkan untuk mencegah banjir, bisa dilakukan beberapa usaha.antara lain
    1. Pengerukan secara berkala pada dasar sungai.
    2. Relokasi penghuni bantaran sungai. (Agar tidak mendangkalkan sungai lewat pembuangan sampah sembarangan, karena masih ada stigma bahwa sungai adalah tempat pembuangan sampah yang paling Sip).
    3. Perbaikan irigasi,agar air sungai yang melimpah dapat dialirkan ke sungai2, sawah, kebun2 yang akhiranya dapat mengurangi debit pada sungai induk.

    semoga bermafaat

    Salam hangat,

    Bung Sulton

  2. Free Day on Juni 13th, 2009 7:51 pm

    Memang kita memerlukan solusi-solusi cerdas, singkat dan efektif. Namun, itu sebenarnya hanyalah solusi instant. Yang harus tetap dipejuangkan adalah pengembalian ekosistem kita menjadi lebih hijau…..Ingatlah kenapa Mc Gore memperjuangkan “climate change” mungkin karena ia tahu bumi akan kiamat sebentar lagi…akibat manusianya itu sendiri.

    Seandainya…(terlepas dari takdir Allah) setiap manusia ini menjaga semua tingkah lakunya agar tidak mendatangkan dosa..pastilah tanda-tanda kiamat itu tak akan terjadi….so dengan kata lain kiamat itu tergantung manusianya sendiri.

    ..bisa dipahami kan analogi ini…

Komentar